Saturday, January 15, 2022

Pembelajaran Kolaboratif: Cara Pengelompokan Siswa

Pembelajaran Kolaboratif - Diskusi dalam kelompok kecil terbukti sebagai cara pembelajaran yang paling efektif. Kolaborasi akan efektif jika ruang kelas ditata sedemikian rupa sehingga tidak menggambarkan situasi klasikal, tetapi dapat berbentuk setengah lingkaran, huruf U, kelompok tatap muka empat-empat, dobel setengah lingkaran dan lain sebagainya. Intinya ciptakan suasana interaktif, siswa aktif dengan komunikasi yang efektif selama pembelajaran kolaboratif. Pembelajaran kolaboratif, walau memiliki kemiripan, berbeda dengan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kolaboratif pada prinsipnya melibatkan kerja sama antara dua orang siswa atau lebih, sedangkan pembelajaran kooperatif umumnya telah dibakukan terdiri dari kelompok kecil 2-6 orang. Lebih dari 6 orang dianggap sudah tidak efektif lagi dan dianggap sebagai pembelajaran kolaboratif biasa.

Pembelajaran Kolaboratif

Pembelajaran Kolaboratif

Macam Bentuk Pengelompokan Siswa

Dalam pembelajaran kolaboratif, kita tidak bisa terlepas dengan kegiatan pengelompokan siswa. Cara pengelompokan siswa ini didukung oleh sejumlah teori. Misalnya, Andree (1982), menyatakan ada beberapa macam pengelompokan siswa di antaranya:

Task-Planning

Bentuk pengelompokan berdasarkan rencana tugas yang diberikan oleh guru.

Teaching Groups

Guru memerintah satu hal, siswa yang ada pada tahap kognitif yang sama mengerjakan tugas yang sama pada saat yang sama.

Seating Groups

Pengelompokan yang bersifat umum, disisni 4-6 orang siswa duduk mengelilingi satu meja.

Joint-Learning Groups

Satu kelompok siswa bekerja dengan kegiatan yang saling terkait dengan kelompok yang lain.

Collaborative Groups

Kelompok kerja yang menitikberatkan pada kerja sama tiap individu dan hasilnya merupakan sesuatu yang teraplikasi.

Sementara itu, Kerry and Sand (1982), mengidentifikasi 5 cara pengelompokan lain yaitu;

Age Groups

Pengelompokan berdasarkan usia dalam satu kelompok.

Achievement Groups

Pengelompokan berdasarkan prestasi siswa yang merata dalam satu kelompok.

Interest Groups

Pengelompokan berdasarkan minat dalam satu kelompok.

Friendship Groups

Pengelompokan berdasarkan siswa yang dianggap teman dalam satu kelompok.

Convenience Groups

Pengelompokan berdasarkan tujuan organisasi (Karti, 2003:25).

Jika pengelompokan itu dilandasi oleh suatu yang sejenis misalnya, semuanya laki-laki, semuanya perempuan, kepandaian anggota kelompok hampir setingkat, disebut kelompok homogen. Sedangkan jika landasannya justru adanya variasi, baik itu variasi jenis kelamin, suku, ras agama, tingkat kepandaian dan sebagainya disebut kelompok heterogen. Dalam pembelajaran kooperatif lebih ditekankan dan disukai kelompok yang heterogen.

Berkaitan dengan berbagai cara untuk mengelompokkan siswa tersebut diatas ada sejumlah hal penting yang harus dipertimbangkan guru untuk memilih cara mengelompokkan siswa untuk mendukung pembelajaran kolaboratif. Menurut sejumlah ahli, hal-hal penting itu meliputi pertimbangan tentang:

1) Apakah tujuan pembelajarannya dan seberapa jauh hal itu dapat diwujudkan dengan pembagian siswa menurut kelompok-kelompok kecil?

2) Adakah kandungan pembelajaran (pokok bahasan) kondusif untuk dipelajari melalui aktivitas kelompok?

3) Apakah waktu yang dialokasikan untuk pembelajaran mencukupi bagi praktik pembelajaran dengan kelompok kecil sehingga pelaksanaannya mampu memuaskan guru maupun siswa?

4) Apakah setting pembelajaran sesuai untuk melaksanakan kegiatan kelompok?

5) Apakah tersedia cukup sarana atau prasarana yang menunjang pembelajaran bagi setiap kelompok untuk menyelesaiakan tugas kelompok?

6) Informasi apa yang dibutuhkan siswa untuk mengetahui konten pembelajaran, dan tanggung jawab apa yang didelegasikan kepada setiap kelompok?

Sehubungan dengan sejumlah pertimbangan diatas, Mark (2005) menyatakan bahwa pembagian siswa dalam kelompok kecil yang umum dilaksanakan adalah berdasarkan:

Kelompok siswa dengan tingkat kecakapan yang sama, setaraf, atau mirip;

Kelompok dengan tingkat keterampilan yang setara;

Kelompok persahabatan, mengizinkan siswa-siswa yang akrab untuk kerjasama atau kerja bersama;

Kelompok minat.


Cooperative Learning

Dalam kaitannya dengan model pembelajaran yang banyak dikembangkan saat ini, yaitu cooperatif learning, Laura Candler (2009) menyarankan agar tiap kelompok terdiri dari empat orang, kelompok ini terbukti efektif dan luwes karena jika guru menginginkan dapat mengelompokkannya lagi menjadi dua pasang dua pasang, tetapi tetap dalam kelompok yang sama. Tiap tim seyogyanya bersifat heterogen sehingga setiap anak memiliki kesempatan berinteraksi dengan anak yang berbeda. Secara rinci cooperative learning disarankan sebagai berikut.

Setiap tim meliputi satu anak yang pandai, dua anak yang rata-rata kepandaiannya dan satu anak yang lambat belajar.

Diupayakan ada anak laki-laki maupun perempuan.

Anggota tim menggambarkan perbedaan etnik atau ras atau suku.

Tim dibentuk paling lama untuk dalam jangka waktu sekitar 6 minggu, setelah itu dapat dikelompokkan lagi.

Setelah pembentukan tim, sebelum penugasan oleh guru beri kesempatan kepada anggota tim untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain, misalnya melalui kegiatan pemecah kebekuan (ice breaker). 

Pembentukan tim dalam pembelajaran kooperatif dapat dilaksanakan secara cepat dan mudah misalnya melalui pembuatan kartu indeks. Caranya adalah sebagai berikut.

Tulislah nama setiap siswa diatas sebuah kartu indeks, dapat sibuat cukup berukuran setengah kartu pos.

Kelompokkan kartu-kartu indeks itu menjadi empat tumpukan yang masing-masing tumpukan mewakili anak yang pandai, rata-rata atas, rata-rata bawah, dan lambat belajar.

Pilihlah satu kartu indeks dari setiap tumpukan. Dalam memilih yakini dan cermati bahwa pilihan Anda sudah memperhatikan jenis kelamin, ras, dan kepribadian siswa, sehingga setiap kelompok merupakan campuran heterogen.

Pilihlah sisa anggota kelompok dengan cara yang sama. Tempatkan setiap kartu indeks yang berisi anggota tim dalam suatu tempat penyimpanan, misalnya dalam boks kecil dari plastik atau semacam tempat penyimpanan kartu katalog.

Dalam kertas terpisah atau buku catatan, catatlah setiap nama tim dan anggotanya, dokumenkan, arsipkan dengan baik, ini akan menjadi acuan Anda jika nanti akan membentuk tim yang baru, tentu Anda tidak menginginkan sepanjang tahun setiap anak berada dikelompok yang sama, mereka akan bosan dan tidak kreatif lagi.


Diskusi Kelompok Kecil

Inti pelaksanaan pembelajaran kolaboratif tentu saja harus terjadi diskusi, kontak langsung antara orang perorang dan masing-masing individu diberikan kesempatan yang sama untuk mengutarakan pendapat dan gagasannya, dan pada akhirnya mereka diwajibkan untuk mengambil simpulan atau memecahkan masalah sesuai dengan tugas yang diberikan (tujuan pembelajaran). Melalui diskusi kelompok kecil memungkinkan peserta didik memperoleh manfaat melalui:

1) berbagi informasi dan pengalaman dalam pemecahan masalah atau penambahan wawasan kognitif, 

2) meningkatkan pemahaman terhadap masalah, 

3) meningkatkan keterlibatan dalam perencanaan pembelajaran dan pengambilan keputusan, 

4) mengembangkan kemampuan berfikir dan berkomunikasi, 

5) membina kerja sama yang sehat dan efektif dalam kelompok yang kohesif dan bertanggung jawab.


Sunday, January 9, 2022

Kompetensi Guru PKn (Pendidikan Kewarganegaraan)

Kompetensi guru merupakan hal pokok yang harus dimiliki oleh setiap pendidik sehingga apa yang dilakukan dan diajarkan baik di luar ataupun di dalam kelas bermanfaat dan dapat menjadi teladan bagi anak didik dan lingkungan sekitarnya. Terdapat 4 kompetensi guru telah diatur dalam UU No 14 tahun 2005 dan Permendiknas No 16 tahun 2007 yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosil, dan professional. 

Kompetensi Guru


Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik ini merupakan kemampuan guru dalam melakukan manajemen pembelajaran. Dengan kemampuan ini, guru dituntut untuk dapat membuat strategi pembelajaran kaitannya dengan menyiapkan perangkat pembelajaran yang baik yang dapat membantu tercapainya tujuan pembelajaran. Kemampuan ini meliputi pembuatan RPP, pemilihan pendekatan pembelajaran, metodepembelajaran, mode pembelajaran, media pembelajaran dan perangkat pembelajaran lainnya. Selain perancangan/perencanaan pembelajaran, guru juga dituntut untuk menguasai pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik terutama dalam mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 

Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan yang harus dimiliki seorang guru kaitannya dengan kepribadian yang baik, berakhlak mulia, arif, bijaksana dan berwibawa sehingga dapat menjadi teladan bagi peserta didik dan lingkungan sekitar. Tak hanya bermodalkan penampilan menarik, seorang guru harus memiliki kepribadian baik.

Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi di lingkungan sosial. Kompetensi ini menekankan efektifitas dan efisiensi komunikasi baik dengan peserta didik dan masyarakat sekitar. Kemampuan ini menegaskan bahwa seorang guru tidak hanya bermanfaat untuk sekolah saja, namun seorang guru harus bermanfaat pula bagi lingkungan sosialnya karena guru merupakan bagian dari lingkungan dan masyarakat sosial pula.

Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam penguasaan materi pembelajaran. Seorang guru diharuskan menguasai materi yang hendak diajarkan di dalam kelas. Penguasaan materi pun tidak hanya sebatas tahu dan mengerti tentang materi pembelajaran itu, namun harus dipahami secara luas dan mendalam. Hal ini dimaksudkan untuk dapat membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi serta mencapai tujuan pembelajaran. Saat ini guru termasuk dalam golongan profesi. Untuk meningkatkan dan menguji profesionalisme guru, pendidikan di Indonesia menyediakan Program Profesi Guru (PPG). 


Kompetensi Guru Pengampu Mata Pelajaran PKn SD

Kompetensi guru pengampu mata pelajaran PKn SD adalah hal yang perlu dipertanyakan pada guru PKn SD khususnya sekarang ini. Perkembangan zaman ditengah globalisasi menuntut profesionalitas segala lini termasuk pada guru agar mampu bersaing khususnya dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa. Sosok guru yang diharapkan dapat mengampu Pkn SD adalah guruyang memiliki standar kompetensi yang diikuti oleh spesifikasi pengalaman belajar yang memungkinkan terkuasainya kompetensi yang diharapkan dalam mata pelajaran PKn SD. Spesifikasi pengalaman belajar sangat penting untuk meyakinkan terbentuknya kompetensi yang diharapkan tersebut. Standar kompetensi guru kelas SD lulusan PGSD untuk mata pelajaran PKn SD dan pembelajaran PKn SD adalah guru yang “menguasai substansi dan metodologi dasar keilmuan pendidikan kewarganegaraan (PKn) yang mendukung pembelajaran PKn SD”. 

Mengkaji cita-cita, nilai, konsep, norma, moral pancasilasecara kritis dalam dinamika kehidupan masyarakat Indonesia.

Mengkaji konsep dan prinsip kepribadian nasional dan demokrasi konstitusional Indonesia, semangat kebangsaan dan cinta tanah air serta bela negara, perlindungan dan pemajuan HAM, serta penegakan hukum secara adil dan benar.

Mengkaji konsep, prinsip, nilai, moral dan norma kewarganegaraan Indonesia yang demokratis dan ber-Bhineka Tunggal Ika dalam konteks kewargaan negara dan dunia.

Berlatih berperan sebagai warga negara yang cerdas, partisipatif dan bertanggung jawab melalui keterlibatan sosial yang terkait dengan berbagai dimensi kebijakan public dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia yang pluralistic.

Berlatih menciptakan iklim kelas dan sekolah sebagai laboratorium demokrasi yang memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar terbuka untuk memperkuat pengembangan nilai-nilai demokrasi di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.   


Kompetensi Guru Berdasarkan Pengalaman Belajar

Pengalaman belajar tersebut dikelompokkan menjadi tiga, sesuai dengan hakikat pembentukan kompetensi. Ketiga kelompok pengalaman tersebut adalah mengkaji, berlatih, dan membiasakan diri.

Mengkaji

Mengkaji merupakan pengalaman belajar untuk menguasai kemampuan akademik. Mengkaji dapat dilakukan dengan berbagai macam cara seperti membaca, berdiskusi, mengobservasi, dan melakukan percobaan.

Berlatih

Berlatih merupakan pengalaman belajar untuk menguasai keterampilan. Berlatih dapat dilakukan dalam bentuk simulasi atau konteks sebenarnya disertai evaluasi. Perlu dicatat bahwa kegiatan berlatih menggambarkan sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang disertai perbaikan berdasarkan evaluasi.

Membiasakan Diri

Membiasakan diri merupakan pengalaman belajar untuk menguasai sikap, nilai, dan kecenderungan dalam bertindak. Membiasakan diri ini harus dilakukan dalam konteks yang sebenarnya, berulang dan berkelanjutan (continue).

Mengingat kompleksnya kandungan profil kompetensi keguruan kependidikan, termasuk profil kompetensi guru kelas SD, asesmen penguasaannya tidak cukup hanya dilakukan dengan tes tertulis. Penguasaan pengetahuan dan pemahaman sebagian besar memang dapat diakses melalui tes tertulis, namun penguasaan keterampilan harus diakses melalui proses penampilan unjuk kerja yang dielar dalam pelaksanaan tugas-tugas professional dan produk yang dihasilkan.

Sementara itu pemilihan sikap, nilai ,dan kecenderungan bertindak diakses melalui observasi dalam situasi yang otentik. Kesimpulannya, penampilan unjuk kerja keguruan kependidikan yang utuh dalam konteks yang alamiah harus dinilai dengan menggunakan instrument yang lebih kompleks, misalnya alat penilaian kemampuan guru (APKG) yang penerapannya memerlukan banyak pertimbangan ahli (expert judgment).  

Setelah membaca artikel ini, semoga anda terus meningkatkan kompetensi anda sebagai seorang guru, ataupun calon guru. Semoga bermanfaat.


Silahkan upload tugas anda di sini ⤖ UPLOAD TUGAS

Saturday, January 8, 2022

UAS Pengembangan Pembelajaran PKn SD

No comments     
categories: 

Ujian Akhir Semester Gasal Pengembangan Pembelajaran PKn SD

Ujian

Jawablah pertanyaan berikut dalam perspektif anda masing-masing (no google, no drama)!  

  1. Jelaskan hakekat dan tujuan pembelajaran PKn di SD!
  2. Sebutkan dan jelaskan beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran PKn di SD!
  3. Menurut anda, seberapa penting pengembangan pembelajaran khususnya mata pelajaran PKn?
  4. Jelaskan apa saja yang perlu dilakukan seorang guru sebelum melakukan pengembangan pembelajaran PKn!
  5. Menurut anda, mana yang lebih penting antara mengembangkan pendekatan, metode, model, media, atau penilaian pembelajaran, jelaskan!
  6. Sebutkan satu metode dan satu model yang menurut anda dapat dikembangkan dan digunakan dalam pembelajaran PKn SD! Beri Penjelasan!
  7. Anda adalah seorang guru Sekolah Dasar yang harus mengajar 30 siswa dalam suatu kelas. Beberapa pertemuan dan kegiatan pembelajaran yang anda lewati kurang begitu efektif. Siswa cenderung tidak antusias dalam mengikuti pembelajaran yang Anda berikan. Bahkan masih ada beberapa siswa yang suka berjalan-jalan di kelas dan asik berbincang dengan teman yang lain saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Melihat fenomena tersebut, anda harus membuat suatu perubahan dengan melakukan pengembangan pembelajaran. Berdasarkan analisis kebutuhan di atas, jenis pengembangan apa yang akan anda lakukan? Jelaskan!  

Kirim jawaban anda dalam bentuk word atau pdf melalui link ~> UPLOAD JAWABAN


Monday, November 22, 2021

Best Commercial Cleaning Services

Do You Need Cleaning Services?

Best Commercial Cleaning Services. Cleaning services provider can customized the commercial cleaning services and house cleaning services based on customers needs.

Commercial cleaning services provide cleaning services for small and large office buildings. If your office building is not cleaned for several months, it is time to clean it. Some companies will let their own workers to do the cleaning jobs. The problem is that these workers are not trained to carry out the cleaning services. They don’t know how to use the cleaning equipment so the cleaning chores cannot be carried out professionally. Maintaining a hygienic workplace is important because the workers need to be in a good mood before they can become productive. If you want the work to be done professionally, it is recommended that you hire the office cleaning company. The janitorial cleaning company has a group of employees that are well trained in every aspect of the cleaning task. You can check the yellow pages for references of the cleaning companies. Alternatively, you can use the search engine to do research on the cleaning companies.

Before hiring, it is a good idea to get estimates from at least 3 companies. However, you should avoid deals that come with unreasonable price tags. If you need help in hiring a cleaning service, you can ask friends and neighbors for referrals. You should ask friends who have experiences in hiring the cleaning company. You can ask your friend to give you a few referrals so that you can do research effectively. You can also get recommendations from associations such as National Association of Professional Cleaners, Association of Residential Cleaning Professionals, Apartment cleaners and etc. There are many factors you need to consider when hiring the company. The commercial cleaning company must offer guarantee for the cleaning services. The guarantee protects you in case the cleaning tasks are not carried out properly. If the cleaning tasks are not carried out properly, you can call the manager and tell him the problem. The manager must send the cleaning crew back and clean the place again.


Cleaning Services
Best Commercial Cleaning Services 

The commercial cleaning company must be in business for more than 10 years. If the company is new, it is likely that it has an unreliable service. You must make sure that the company is bonded. The bond offers protection for the house cleaning chore. The employees hired by the cleaning company must be screened. It is important that the employees must be screened. If the employee is not screened, you don’t know whether they steal items from the house before. There have been many cases where the maid steals items from the house and the owners suffer loss from it. You will not want dishonest cleaning workers to steal your possessions.

The commercial cleaning company must be licensed. You can make a phone call to the representative and get to know the background of the cleaning company. If you decide to hire the company, you should ask them about the workers assigned to do the cleaning chores. You should get to know each one of the employees so that it will be easier to communicate with them.

MtoClean.com is a cleaning services company that specializes in offering house cleaning and commercial cleaning services.


Friday, October 22, 2021

Cara Meningkatkan Pendidikan

No comments     
categories: 

WAYS TO IMPROVE EDUCATION

Cara meningkatkan pendidikan antara lain dapat dilakukan dengan:

1.       Berhentilah melihat anak-anak kita sebagai angka

Melihat anak-anak sebagai sebuah angka disini adalah membedakan antara satu peserta didik dengan yang lainnya serta mengelompokkan mereka berdasarkan kemampuan kognitif mereka sehingga antara satu dengan yang lainnya kita sebagai guru cenderung membedakan dalam hal pemberian bimbingan belajar. Padahal mereka memiliki hak yang sama antara individu satu dengan yang lainnya. Selain itu, dunia pendidikan kita terkadang masih melihat kesuksesan belajar anak berdasarkan angka yang mereka raih. Padahal ada capaian lain yang mungkin dapat membawa mereka ke dalam kata “sukses belajar”.

2.       Pengujian yang kurang terstandarisasi

Pengujian atau sering kita sebut sebagai evaluasi kerap kali terlupakan begitu saja khususnya tentang standarisasinya. Guru kerap melakukan evaluasi dengan asal memberikan soal untuk dijawab siswa tanpa mempertimbangkan apakah evaluasi tersebut dapat mewakili dalam menilai prospek dan kemajuan belajar siswa, dengan kata lain tidak melihat standarisasi dari instrument-instrumen pengujiannya.

3.       Perkenalkan kembali kelas eksplorasi

Eksplorasi adalah tahapan pembelajaran di mana siswa diminta aktif menelaah dan mencaritemukan informasi suatu pengetahuan/konsep ilmu baru, tekhnik baru, metode dan rumus baru, atau menyelidiki pola hubungan antar unsur konsep ilmu, sambil berusaha memahaminya.  Inti kegiatan eksplorasi adalah pelibatan siswa dalam menelaah sesuatu hal baru, entah berhbubungan dengan materi pelajaran sebelumnya maupun yang benar-benar baru bagi siswa.

4.       Sediakan waktu membaca 30 menit

Globalisasi menjadi pengaruh besar dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan, baik positif atau negatif. Kita harus benar mengarahkan globalisasi dengan bijak agar memiliki dampak yang positif. Membaca saat ini menjadi kegiatan yang hampir terabaikan yang salah satunya justru dikarenakan oleh kemajuan teknologi itu sendiri. Seharusnya kita sebagai pendidik harus bisa mengarahkan kemajuan teknologi tersebut untuk memajukan kegiatan positif seperti membaca. Sebab kita tahu dengan semakin banyak kita membaca informasi semakin banyak pula ilmu pengetahuan yang kita dapat. Kaitannya dengan kemajuan teknologi maka dapat kita manfaatkan dengan cara membaca digital. Bisa juga kita manfaatkan perpustakaan sekolah yang mungkin lama tak terpakai. Tidak ada salahnya kita mulai kembali menghidupkan budaya membaca anak-anak kita agar mereka makin cerdas dan berwawasan luas.    

5.       Berikan lebih banyak dukungan

Selain sebagai fasilitator dalam pembelajaran, seorang guru harus bisa menjadi supporter belajar anak didiknya. Tidak tebang pilih dalam membimbing mereka dan mensupport mereka agar mereka merasa dipandang sama meski dalam kenyataannya berbeda. Dukungan menjadi stimulus yang penting agar dapat membangkitkan motivasi dan minat siswa terhadap kegiatan pembelajaran di kelas.

6.       Berikan guru lebih banyak waktu persiapan

Persipan yang matang menghasilkan sesuatu yang matang pula. Mengajar tidak seperti proses memindahkan air dari ember ke gelas yang kosong. Butuh persiapan maksimal seorang guru mengemas proses pembelajaran semenarik mungkin agar tercapai tujuan pembelajaran dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Profesionalisme guru dipertanyakan di sini karena semakin kreatif dan inovatif seorang guru maka semakan professional pula guru tersebut. Seseorang pernah mengatakan, “semua orang bisa mengajar namun tidak semua bisa mendidik”. Maka, jadilah pendidik bukan hanya sekedar pengajar.

7.       Ukuran kelas yang lebih kecil

Hal ini hampir sama dengan pertanyaan “mengapa di kelas bimbel jumlah siswa dibatasi?”. Hal ini karena semakin sedikit siswa yang kita ajar, semakin fokus belajar siswa. Hal ini sama dengan kita meminimalisir terjadinya permasalahan-permasalahan yang timbul di kelas seperti kegaduhan, ketidak perhatian dan lain sebagainya yang mungkin dilakukan jika kuota suatu kelas semakin banyak.

8.       Menaikkan gaji guru

Ini yang perlu diperhatikan pemerintah Republik Indonesia. Gaji guru apalagi yang masih berstatus honorer masih amat sangat memprihatinkan. Tidak perlu kita bandingkan dengan negara lain, sebab negara yang maju adalah negara yang menjunjung tinggi dan memuliakan para guru. Kesejahteraan guru adalah penunjang profesionalisme mereka. Jadi jika ingin semua guru di Indonesia khususnya professional, maka naikkanlah gaji mereka, tingkatkan kesejahteraan mereka.


Sunday, October 17, 2021

Filsafat Ilmu dalam Sudut Pandang Epistimologi

No comments     
categories: ,
Filsafat Ilmu dalam Sudut Pandang Epistimologi
Filsafat Ilmu dalam Sudut Pandang Epistimologi

Filsafat Ilmu dalam sudut Pandang Epistimologi. Landasan Epistemologi ini ialah sudut pandang pengembangan ilmu dengan titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan yang didasarkan atas metode/ prosedur serta kaidah bagaimana mendapatkan kebenaran. Yakni kaidah ilmiah guna memperoleh kebenaran pengetahuan. Secara garis besar dibedakan menjadi 2 yakni metode siklus empiris untuk ilmu pengetahuan alam serta metode linier untuk ilmu sosial. Metode siklus empiris ialah prosedur yang dikembangkan guna penyelidikan kebenaran pengetahuan ilmu- ilmu alam. Prosedur ini umumnya meliputi observasi, pelaksanaan prosedur induksi, eksperimen setelah itu verifikasi yang kemudian menghasilkan teori. Sebaliknya metode linear meliputi langkah-langkah diagnosa yakni penangkapan inderawi terhadap kenyataan. Kemudian disusun sebuah konsepsi serta terakhir ialah analisis yang mengahsilkan ramalan ataupun prediksi guna masa yang akan tiba.

Sebutan Epistemologi awal kali digunakan oleh J.F. Feriere (1854) dalam menarangkan diferensiasinya dengan ontologi. Kasus dalam epistemologi ini berkaitan dengan suatu yang dikenal. Secara etimologis Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, ialah Episteme yang berarti pengetahuan serta Logos yang berarti benak ataupun teori. Dengan demikian epistemologi secara bahasa bisa diartikan sebagai teori pengetahuan. Bahasa filsafat menyebutnya sebagai filsafat pengetahuan, logika material, kriteriologia, kritika pengetahuan serta gnoseologia. Objek epistemologi merupakan pengetahuan itu sendiri. Bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh dan dari mana sumbernya. Secara sistematis epistemologi membicarakan makna pengetahuan, terbentuknya pengetahuan, jenis- jenis pengetahuan dan asal usulnya. Analoginya; kala manusia dilahirkan ia tidak dilengkapi dengan pengetahuan, setelah itu memiliki pengetahuan simpel serta pengetahuan tersebut meningkat terus bersamaan dengan bertambahnya umur, pengalaman serta sosioalisasi dan keahlian rasionalnya. Pengetahuan tiap- tiap orang berbeda- beda. Bagaimana seseorang mendapatkan pengetahuan serta hakekatnya ialah bahasan dalam epistemologi ini.

Sistematika epistemologi yang awal merupakan uraian terhadap arti pengetahuan itu sendiri. Sebutan pengetahuan ini mengorganisir sebagian faktor yang saling terpaut serta mengikat. Pengetahuan mengaitkan yang mengetahui, suatu yang dikenal serta pemahaman atas pengetahuan itu sendiri. Mundiri (2008) mensyaratkan adanya kepercayaan serta tiadanya keraguan dalam pengetahuan. Berkaitan dengan pengetahuan, tidak bisa dipisahkan dari alam pikiran. Sebab dengan pikiran (daerah kognitif) suatu pengetahuan dibentuk serta ditanamkan dalam jiwa, dengan demikian interrelasi antara benak serta pengetahuan ialah suatu keharusan fungsional serta kodrati. Suatu pikiran untuk bisa menciptakan serta menampung pengetahuan memiliki struktur yang tercipta dari sebagian faktor yang fungsional. Unsur- unsur tersebut yakni Mengamati (observation), Menyelidiki (Inquires), Yakin (believes), hasrat (desires), iktikad (intends), mengendalikan (organizes), membiasakan (adapts) serta menikmati (enjoys).

Pengetahuan yang terorganisir dalam alam pikiran manusia tidak terjalin begitu saja. Terwujudnya sesuatu pengetahuan bisa lewat pengalaman (a posteriori) maupun tanpa pengalaman (a priori). Dari 2 jalur tersebut bisa dibesarkan menjadi sebagian kaidah terbentuknya pengetahuan. John Hospers dalam Surajiyo (2008) menarangkan bahwasanya ada sebagian perihal yang mendasari terbentuknya pengetahuan. Sistematika terbentuknya pengetahuan bisa dipaparkan sebagai berikut (John Hospers):

1. Pengalaman Indera (Sense of Experience)

Indera ialah perlengkapan yang vital dalam diri manusia guna memperoleh pengetahuan dari luar diri manusia itu sendiri. Dalam filsafat ini diujarkan sebagai faham “realisme”. Bagi Aristoteles pengetahuan yang membekas dalam wilayah kognitif manusia ialah bekas- bekas sesuatu yang ditangkap oleh indera. Contoh: seorang mengenali jika api itu panas sebab ia sempat menyentuhnya. Ataupun gula itu manis sebab tadinya sempat mencicipinya. Kelemahan perspektif ini ialah apabila berlangsung ketidak normalan dalam indera itu sendiri, sehingga objek yang ditangkap tidak cocok dengan realitanya.

2. Nalar (Reason)

Kaidah terbentuknya pengetahuan ini ialah penggabungan dari 2 pemikiran ataupun lebih yang setelah itu dijadikan pengetahuan baru. Dalam kaidah ini ada sebagian perihal prinsipil yang wajib dicermati. Untuk menciptakan pengetahuan lewat nalar ini wajib menjajaki azaz- azaz pemikiran sebagai berikut;

  •  Principium identitas dimana konsep sesuatu itu tentu sama dengan sesuatu itu sendiri (X=X).
  • Principium Contrdictionis apabila ada pertentangan antara 2 komentar hingga bisa ditentukan tidak bisa jadi keduanya bersama benar dalam waktu bertepatan.
  • Principium tertii exclusi dalam pertentangan antara 2 komentar tidak hanya tidak mungkin keduanya sama- sama benar, serta tidak mungkin keduanya sama- sama salah. Maksudnya tentu ada kebenaran diantara keduanya. Dengan demikian tidak butuh ada komentar yang ketiga.

3. Otoritas (Authority)

Ialah kewenangan yang legal yang dipunyai oleh seorang dalam kelompoknya serta diakui oleh anggota kelompoknya. Otoritas ini bisa menjdi sumber pengetahuan sebab dengan otoritas tersebut anggota kelompok bisa memiliki pengetahuan lewat seorang yang memiliki kewibawaan dalam pengetahuannya. Umumnya pengetahuan tipe ini tidak butuh diuji coba sebab kewibawaan sumber pengetahuan tersebut.

4. Intuisi (Intuition)

Jiwa tiap manusia memiliki kemampuan keahlian untuk menciptakan pengetahuan tanpa lewat sistematika rasional maupun pengalaman. Pengetahuan ini berasal dari proses kejiwaan guna mengoptimalkan kemampuan kejiwaan dalam diri manusia sehingga sanggup menciptakan pengetahuan tanpa stimulus sebelumnya. Pengetahuan tipe ini tidak bisa dibuktikan seketika kebenarannya sebab pengetahuan ini lebih mengedepankan rasa dalam jiwa.

5. Wahyu (Revelation)

Terbentuknya pengetahuan dengan jalur wahyu ini bersumber pada kepercayaan/ keyakinan. Pengetahuan ini tidak mengedepankan rasionalitas, sebab pengetahuan tersebut diyakini bersumber dari tuhan dalam keyakinan tersebut.

6. Kepercayaan (Faith)

Nyaris sama dengan pengetahuan lewat wahyu, sebab keduanya berpangkal pada suatu keyakinan. Akan tetapi pengetahuan kepercayaan ini belum pasti diyakini dari tuhan. Dapat saja kepercayaan timbul begitu saja dalam diri seorang.

 

Memecahkan Masalah dengan Berpikir Kreatif

No comments     
categories: 

Memecahkan Masalah dengan Berpikir Kreatif. 5W1H (what, who, why, where, when, how) yang dicetuskan oleh Rudyard Kipling merupakan pertanyaan yang mengawali suatu permasalahan. Kita sadari bersama, tidak ada manusia yang tidak memiliki masalah dalam hidupnya. Masalah kerap datang pada waktu yang tak terduga, baik itu masalah kecil ataupun besar, masalah ringan ataupun berat. Oleh karenanya kita harus siap untuk memecahkan masalah demi masalah yang datang pada kita. Namun tak heran jika banyak orang yang lari dari masalah itu sendiri. Padahal lari dari permasalahan bukanlah jalan yang seharusnya kita tempuh karena untuk merubah suatu keadaan kita harus mau dan mampu menghadapi permasalahan yang ada, bukan dengan lari menghindarinya. Maka dapat disimpulkan sebenarnya memecahkan masalah adalah tugas kodrati seluruh umat manusia. 

Berpikir ialah keahlian spesial yang dipunyai manusia serta tidak dipunyai mahluk yang lain. Dalam kehidupan manusia, berpikir seolah menjadi suatu proses yang natural tanpa direncanakan. Tetapi sebetulnya proses berpikir yang kita jalani tiap hari ialah suatu proses yang rumit serta mengaitkan banyak komponen, oleh karenanya kita harus mampu melihatnya dalam perspektif kreatifitas dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang ada. Memang tidak mudah bagi seseorang untuk memecahkan masalah dengan berpikir kreatif. Terkadang tidak menutup kemungkinan bagi kita menemui jalan buntuk jika suatu permasalahan datang menghampiri kita. Namun sebagai manusia yang berakal kita harus mampu menghadapi dan memecahkan masalah demi masalah yang ada dengan berpikir kreatif.

Menghidupkan kreatifitas berpikir pada diri seseorang memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus berlatih sesering mungkin agar terbiasa memecahkan masalah dengan berpikir kreatif, mungkin dari hal-hal kecil yang menghampiri kita atau dengan permasalahan-permasalahan kecil yang ada di lingkungan kita. Dalam memastikan kreatifitas berpikir seorang dibutuhkan beberapa komponen atau variabel. Penentuan kriteria berpikir kreatif ini setidaknya menyangkut 3 ukuran yakni ukuran proses, orang ataupun individu, serta produk kreatif (Amabile, 1983). 

Memakai atau menggunakan proses kreatif selaku kriteria kreativitas pertama, hingga seluruh produk yang dihasilkan dari proses itu dianggap sebagai produk kreatif, serta orangnya diucap selaku orang kreatif. Keberatan yang diajukan terhadap teori ini yakni, suatu yang dihasilkan dari proses berpikir kreatif tidak senantiasa dengan sendirinya bisa diucap sebagai produk kreatif. Kriteria ini tidak sering dipakai dalam riset (Supriadi, 1994: 13). Kriteria kedua yakni ukuran orang ataupun individu selaku kriteria kreativitas kerap kali kurang jelas rumusannya. Amabile (1983) berkata kalau penafsiran orang ataupun individu selaku kriteria kreativitas identik dengan yang dikemukakan Guilford (1950) disebut sebagai karakter kreatif. Karakter kreatif bagi Guilford meliputi ukuran kognitif (bakat) serta non-kognitif (atensi, perilaku, serta mutu inborn). Bagi teori ini, orang-orang kreatif mempunyai identitas karakter yang secara signifikan berbeda dengan orang-orang yang kurang kreatif. Karakteristik-karakteristik karakter ini jadi kriteria buat mengenali orang-orang kreatif. Orang-orang yang mempunyai identitas semacam yang dipunyai oleh orang-orang kreatif dengan sendirinya merupakan orang kreatif (Supriadi, 1994: 13).

Berpikir Kreatif

Kriteria ketiga merupakan produk kreatif, yang menunjuk kepada hasil perbuatan, kinerja, ataupun karya seorang dalam dalam wujud benda, ataupun gagasan. Kriteria ini ditatap selaku yang barrier eksplisit buat memastikan kreativitas seorang, sehingga diucap selaku” kriteria puncak” untuk kreativitas (Amabile, 1983). Dalam pembedahan penilaiannya, proses identifikasi kreativitas dicoba lewat analisis obyektif terhadap produk, pertimbangan subyektif oleh periset, ataupun periset pakar, serta lewat uji (Supriadi, 1994: 14). Dalam kehidupan manusia hasil/produk dari berpikir kreatif kerapkali menarik atensi khalayak sebab disebut sebagai suatu yang baru, inovatif, solutif serta bahkan terkadang konyol. Tetapi demikian, perihal ini mencerminkan dari serangkaian proses rumit yang pada kesimpulannya menciptakan suatu produk dari berfikir kreatif. Produk ini pada biasanya ialah suatu jawaban atas suatu kasus, ungkapan/ ekspresi seorang. Memang setiap manusia memiliki caranya sendiri-sendiri dalam memecahkan masalah secara kreatif.

Kefasihan (fluency), fleksibilitas (flexibility), kebaruan (novelty), dan elaborasi (elaboration) merupakan syarat mutlak komponen yang harus dipenuhi dalam rangka berpikir kreatif atau yang sering disebut sebagai berpikir divergen. Maka jika melihat komponen tersebut, hasil yang didapat dari berpikir kreatif ialah menemukan suatu inovasi atau hal baru sebagai produk dari berpikir kreatif. Faktor pemicu atau yang sering kita sebut sebagai stimulus agar kita mampu berpikir kreatif ialah adanya masalah. Masalah kita selesaikan dengan proses berpikir kreatif atau sering kita sebut sebagai problem solving

Memecahkan masalah dengan berpikir kreatif tentu memiliki beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Dapat kita awali dengan melihat beberapa kemungkinan solusi yang ada dan mengumpulkannya menjadi satu sehingga secara kolektif kita mendapatkan banyak solusi yang nantinya kita seleksi satu per satu. Selain itu kita juga harus mencari informasi sedalam dan sebanyak mungkin yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang kita hadapi sehingga lebih mempermudah kita kaitannya dengan bijak memilih beberapa solusi yang dikumpulkan sebelumnya. Kita pun harus yakin dan sungguh-sungguh dalam menyelesaikan suatu permasalahan, tidak setengah-setengah apalagi lari dari permasalahan. Pastinya dalam berpikir kreatif kaitannya dengan memecahkan permasalahan kita tidak boleh terpaku dengan solusi-solusi lama hal ini dikarenakan jelas tidak akan tercipta inovasibaru hasil dari berpikir kreatif. Masalah yang kompleks perlu kita sederhanakan menjadi satu permasalahan inti yang kiranya dapat diselesaikan dengan sebuah solusi baru dan inovatif hasil dari berpikir kreatif, maka dari itu kita harus mampu menyeleksi mana permasalahan yang perlu didahulukan untuk diselesaikan, mana yang bisa kita uraikan atau gabungkan dan dapat diselesaikan bersama. Demikian beberapa prinsip yang harus kita perhatikan dan kita miliki saat melakukan problem solving atau memecahkan masalah dengan berpikir kreatif.