Sunday, October 17, 2021

Filsafat Ilmu dalam Sudut Pandang Epistimologi

No comments     
categories: ,
Filsafat Ilmu dalam Sudut Pandang Epistimologi
Filsafat Ilmu dalam Sudut Pandang Epistimologi

Filsafat Ilmu dalam sudut Pandang Epistimologi. Landasan Epistemologi ini ialah sudut pandang pengembangan ilmu dengan titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan yang didasarkan atas metode/ prosedur serta kaidah bagaimana mendapatkan kebenaran. Yakni kaidah ilmiah guna memperoleh kebenaran pengetahuan. Secara garis besar dibedakan menjadi 2 yakni metode siklus empiris untuk ilmu pengetahuan alam serta metode linier untuk ilmu sosial. Metode siklus empiris ialah prosedur yang dikembangkan guna penyelidikan kebenaran pengetahuan ilmu- ilmu alam. Prosedur ini umumnya meliputi observasi, pelaksanaan prosedur induksi, eksperimen setelah itu verifikasi yang kemudian menghasilkan teori. Sebaliknya metode linear meliputi langkah-langkah diagnosa yakni penangkapan inderawi terhadap kenyataan. Kemudian disusun sebuah konsepsi serta terakhir ialah analisis yang mengahsilkan ramalan ataupun prediksi guna masa yang akan tiba.

Sebutan Epistemologi awal kali digunakan oleh J.F. Feriere (1854) dalam menarangkan diferensiasinya dengan ontologi. Kasus dalam epistemologi ini berkaitan dengan suatu yang dikenal. Secara etimologis Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, ialah Episteme yang berarti pengetahuan serta Logos yang berarti benak ataupun teori. Dengan demikian epistemologi secara bahasa bisa diartikan sebagai teori pengetahuan. Bahasa filsafat menyebutnya sebagai filsafat pengetahuan, logika material, kriteriologia, kritika pengetahuan serta gnoseologia. Objek epistemologi merupakan pengetahuan itu sendiri. Bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh dan dari mana sumbernya. Secara sistematis epistemologi membicarakan makna pengetahuan, terbentuknya pengetahuan, jenis- jenis pengetahuan dan asal usulnya. Analoginya; kala manusia dilahirkan ia tidak dilengkapi dengan pengetahuan, setelah itu memiliki pengetahuan simpel serta pengetahuan tersebut meningkat terus bersamaan dengan bertambahnya umur, pengalaman serta sosioalisasi dan keahlian rasionalnya. Pengetahuan tiap- tiap orang berbeda- beda. Bagaimana seseorang mendapatkan pengetahuan serta hakekatnya ialah bahasan dalam epistemologi ini.

Sistematika epistemologi yang awal merupakan uraian terhadap arti pengetahuan itu sendiri. Sebutan pengetahuan ini mengorganisir sebagian faktor yang saling terpaut serta mengikat. Pengetahuan mengaitkan yang mengetahui, suatu yang dikenal serta pemahaman atas pengetahuan itu sendiri. Mundiri (2008) mensyaratkan adanya kepercayaan serta tiadanya keraguan dalam pengetahuan. Berkaitan dengan pengetahuan, tidak bisa dipisahkan dari alam pikiran. Sebab dengan pikiran (daerah kognitif) suatu pengetahuan dibentuk serta ditanamkan dalam jiwa, dengan demikian interrelasi antara benak serta pengetahuan ialah suatu keharusan fungsional serta kodrati. Suatu pikiran untuk bisa menciptakan serta menampung pengetahuan memiliki struktur yang tercipta dari sebagian faktor yang fungsional. Unsur- unsur tersebut yakni Mengamati (observation), Menyelidiki (Inquires), Yakin (believes), hasrat (desires), iktikad (intends), mengendalikan (organizes), membiasakan (adapts) serta menikmati (enjoys).

Pengetahuan yang terorganisir dalam alam pikiran manusia tidak terjalin begitu saja. Terwujudnya sesuatu pengetahuan bisa lewat pengalaman (a posteriori) maupun tanpa pengalaman (a priori). Dari 2 jalur tersebut bisa dibesarkan menjadi sebagian kaidah terbentuknya pengetahuan. John Hospers dalam Surajiyo (2008) menarangkan bahwasanya ada sebagian perihal yang mendasari terbentuknya pengetahuan. Sistematika terbentuknya pengetahuan bisa dipaparkan sebagai berikut (John Hospers):

1. Pengalaman Indera (Sense of Experience)

Indera ialah perlengkapan yang vital dalam diri manusia guna memperoleh pengetahuan dari luar diri manusia itu sendiri. Dalam filsafat ini diujarkan sebagai faham “realisme”. Bagi Aristoteles pengetahuan yang membekas dalam wilayah kognitif manusia ialah bekas- bekas sesuatu yang ditangkap oleh indera. Contoh: seorang mengenali jika api itu panas sebab ia sempat menyentuhnya. Ataupun gula itu manis sebab tadinya sempat mencicipinya. Kelemahan perspektif ini ialah apabila berlangsung ketidak normalan dalam indera itu sendiri, sehingga objek yang ditangkap tidak cocok dengan realitanya.

2. Nalar (Reason)

Kaidah terbentuknya pengetahuan ini ialah penggabungan dari 2 pemikiran ataupun lebih yang setelah itu dijadikan pengetahuan baru. Dalam kaidah ini ada sebagian perihal prinsipil yang wajib dicermati. Untuk menciptakan pengetahuan lewat nalar ini wajib menjajaki azaz- azaz pemikiran sebagai berikut;

  •  Principium identitas dimana konsep sesuatu itu tentu sama dengan sesuatu itu sendiri (X=X).
  • Principium Contrdictionis apabila ada pertentangan antara 2 komentar hingga bisa ditentukan tidak bisa jadi keduanya bersama benar dalam waktu bertepatan.
  • Principium tertii exclusi dalam pertentangan antara 2 komentar tidak hanya tidak mungkin keduanya sama- sama benar, serta tidak mungkin keduanya sama- sama salah. Maksudnya tentu ada kebenaran diantara keduanya. Dengan demikian tidak butuh ada komentar yang ketiga.

3. Otoritas (Authority)

Ialah kewenangan yang legal yang dipunyai oleh seorang dalam kelompoknya serta diakui oleh anggota kelompoknya. Otoritas ini bisa menjdi sumber pengetahuan sebab dengan otoritas tersebut anggota kelompok bisa memiliki pengetahuan lewat seorang yang memiliki kewibawaan dalam pengetahuannya. Umumnya pengetahuan tipe ini tidak butuh diuji coba sebab kewibawaan sumber pengetahuan tersebut.

4. Intuisi (Intuition)

Jiwa tiap manusia memiliki kemampuan keahlian untuk menciptakan pengetahuan tanpa lewat sistematika rasional maupun pengalaman. Pengetahuan ini berasal dari proses kejiwaan guna mengoptimalkan kemampuan kejiwaan dalam diri manusia sehingga sanggup menciptakan pengetahuan tanpa stimulus sebelumnya. Pengetahuan tipe ini tidak bisa dibuktikan seketika kebenarannya sebab pengetahuan ini lebih mengedepankan rasa dalam jiwa.

5. Wahyu (Revelation)

Terbentuknya pengetahuan dengan jalur wahyu ini bersumber pada kepercayaan/ keyakinan. Pengetahuan ini tidak mengedepankan rasionalitas, sebab pengetahuan tersebut diyakini bersumber dari tuhan dalam keyakinan tersebut.

6. Kepercayaan (Faith)

Nyaris sama dengan pengetahuan lewat wahyu, sebab keduanya berpangkal pada suatu keyakinan. Akan tetapi pengetahuan kepercayaan ini belum pasti diyakini dari tuhan. Dapat saja kepercayaan timbul begitu saja dalam diri seorang.

 

0 comments:

Post a Comment